Be Happy and Very Happy

“Kata Petrus kepada Yesus: ‘Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.'” (Matius 17:4)
Dalam narasi Injil Matius 17:4, kita melihat Petrus menyatakan perasaan bahagianya saat menyaksikan transfigurasi Yesus di atas gunung. Dia merasa begitu bahagia berada di tempat itu, hingga ingin mendirikan tiga kemah sebagai tanda peringatan. Petrus mengalami kebahagiaan yang meluap-luap karena kehadiran Tuhan, Musa, dan Elia dalam momen yang luar biasa. Apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman Petrus ini tentang kebahagiaan dalam hidup kita?

Orang yang Bahagia Adalah Orang yang Memiliki Kemampuan Melihat Sisi Positif dari Setiap Situasi, Bahkan Dalam Situasi yang Buruk. Hidup tidak selalu penuh dengan kebahagiaan. Ada saat-saat ketika kita menghadapi tantangan, kesulitan, atau penderitaan. Namun, orang yang benar-benar bahagia adalah orang yang mampu melihat sisi positif dari setiap situasi, bahkan dalam situasi yang tampaknya buruk.
Mereka memiliki keyakinan bahwa Tuhan bekerja dalam segala hal untuk kebaikan mereka. Seperti Petrus, yang meskipun berada dalam situasi yang luar biasa, mampu mengungkapkan kebahagiaan sejati karena dia berada di hadirat Tuhan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan diartikan sebagai keadaan atau perasaan senang dan tenteram. Dalam kehidupan Kristen, kebahagiaan ini tidak hanya ditemukan dalam hal-hal duniawi, tetapi dalam hubungan yang dalam dan akrab dengan Tuhan serta orang-orang di sekitar kita. Kebahagiaan sejati datang dari kedamaian yang diberikan Tuhan, bukan dari keadaan eksternal yang dapat berubah.

1. Ada Pribadi yang Mencintaimu (Matius 17:1)

Dalam perjalanan hidup ini, kita sering merasa sendirian atau tidak dicintai. Namun, kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam kenyataan bahwa ada Pribadi yang mencintaimu secara tulus. Tuhan Yesus mencintai kita dengan kasih yang rela berkorban. Dia menerima kita apa adanya, selalu hadir untuk kita, dan rela memberikan nyawa-Nya di kayu salib demi keselamatan kita.

Firman Tuhan mengingatkan kita dalam *Efesus 2:13-14* bahwa melalui darah Kristus, kita yang dahulu jauh telah menjadi dekat. Kristus telah merubuhkan tembok pemisah dan membawa damai sejahtera. Kebahagiaan sejati dimulai ketika kita menyadari bahwa kita dicintai dengan kasih yang tak bersyarat oleh Tuhan sendiri.

“Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.” (Efesus 2:13-14) (TB)

2. Ada Sahabat yang Tepat (Matius 17:1)

Kebahagiaan juga ditemukan ketika kita dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang tepat, seperti yang dialami oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes ketika mereka bersama Yesus. Sahabat yang baik adalah mereka yang setia dalam suka maupun duka, yang bisa diandalkan, dan memiliki empati terhadap orang lain. Mereka adalah pendengar yang baik, tidak menghakimi, dan membawa pengaruh yang positif dalam hidup kita.

Ciri sahabat yang baik meliputi: jujur dan bisa dipercaya, setia dalam suka maupun duka, dapat diandalkan, memiliki empati terhadap orang lain, pendengar yang baik, tidak menghakimi, tidak mempersalahkan hal-hal sepele, membawa pengaruh yang baik.

Sahabat yang demikian dapat memberikan dukungan yang tulus dan mendorong kita menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam kehidupan kita, penting untuk memiliki sahabat yang jujur dan dapat dipercaya. Seperti yang tertulis dalam Amsal 17:17 (TB): “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Namun, Ayub mengingatkan kita bahwa tidak semua teman memberikan penghiburan yang sejati. Ada teman-teman yang hanya membuat kita merasa lebih buruk. Oleh karena itu, penting untuk memiliki sahabat yang mendukung kita dalam iman dan kebenaran.

“Tetapi Ayub menjawab: ‘Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!'” (Ayub 16:1-2) (TB)

3. Di Tempat yang Tepat (Matius 17:2)

Petrus merasa bahagia karena dia berada di tempat yang tepat, yaitu di hadapan Tuhan di gunung transfigurasi. Demikian juga, kebahagiaan sejati ditemukan ketika kita berada di tempat yang tepat, yaitu di hadirat Tuhan. Dalam Mazmur 84:10 (TB), dikatakan bahwa lebih baik satu hari di pelataran Tuhan daripada seribu hari di tempat lain.

Berada di rumah Tuhan sejak dini adalah salah satu cara untuk menjaga diri kita tetap dekat dengan Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Lukas 2:42, Yesus dibawa ke Bait Allah sejak kecil, dan Samuel mulai melayani Tuhan sejak masa remajanya (1 Samuel 3:1). Dengan berada di hadirat Tuhan, kita menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati.

“Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” Mazmur 84:10 (TB)

Kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang hanya datang dari keadaan eksternal atau duniawi. Sebaliknya, kebahagiaan yang sejati ditemukan ketika kita berada dalam hubungan yang akrab dengan Tuhan, dikelilingi oleh sahabat yang baik, dan berada di tempat yang tepat—yaitu hadirat Tuhan.

Seperti Petrus yang berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini,” kita juga dapat merasakan kebahagiaan yang meluap-luap ketika kita menyadari kasih Tuhan yang tak bersyarat, sahabat yang setia, dan kedekatan kita dengan-Nya. Mari terus mencari kebahagiaan sejati di dalam Tuhan, dan jadilah orang yang berbahagia dan sangat bahagia di setiap langkah hidupmu.

Avatar photo
Sulaiman Prayogo
Articles: 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *